Bombana – Peristiwa longsor kembali terjadi di kawasan operasional PT Almharig, tepatnya di Dusun Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Hujan deras pada Senin malam, 6 April 2026, memicu pipa saluran air bersih patah dari runtuhan tanah yang menutup jalan tani, sehingga akses utama petani lumpuh total.

Pantauan di lokasi menunjukkan jalan tani yang sebelumnya digunakan warga kini berubah menjadi hamparan lumpur tebal bercampur material kayu. Kendaraan roda dua tidak lagi bisa melintas, memaksa warga berjalan kaki untuk mencapai kebun mereka.

Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Petani kesulitan mengangkut hasil kebun, bahkan kebutuhan sehari-hari mulai terhambat akibat akses yang terputus.

Baca Juga:

Yang lebih parahnya, longsor tersebut juga bukan lagi mengancam keberadaan pipa saluran air bersih yang melintasi area longsor yang kini sudah rusak (patah). Hal ini berdampak pada layanan air bersih di delapan desa lumpuh total. Pipa ini diketahui menjadi sumber distribusi air bersih bagi tiga kecamatan di wilayah pulau Kabaena.

Warga setempat menilai kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi. Longsor serupa disebut sudah berulang, namun hingga kini belum ada penanganan yang benar-benar tuntas.

“Ini sudah sering terjadi, tapi belum ada perbaikan nyata. Kami yang jadi korban karena akses utama tertutup,” ungkap salah satu warga.

Di sisi lain, pihak PT Almharig Sebelumnya mengakui bahwa longsor yang terjadi berkaitan dengan aktivitas tambang di area tersebut. Pelaksana Harian Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almharig, Irhamsyah, menyebut curah hujan tinggi menjadi pemicu utama terjadinya longsor.

“Memang kondisinya mengalami longsor pasca hujan deras. Kami juga sudah menemui warga dan pemerintah desa untuk membahas penanganan,” ujarnya saat dikenfirmasi (10/3).

Ia menjelaskan, perusahaan bersama aparat setempat telah melakukan peninjauan lapangan, serta menggelar pertemuan dengan warga. Dalam pertemuan itu, pihak perusahaan menyatakan komitmen untuk melakukan pemulihan area terdampak.

Namun demikian, realisasi di lapangan masih terkendala akses menuju titik longsor. Jalur yang tersedia harus melewati kebun cengkeh milik warga, sehingga penggunaan alat berat menjadi persoalan tersendiri.

“Untuk memasukkan alat cukup sulit karena harus melewati kebun masyarakat. Ada kemungkinan warga keberatan,” Dalihnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait keseriusan penanganan, baik dari pihak perusahaan maupun pemerintah. Warga berharap ada langkah konkret dan cepat, mengingat jalan tani tersebut merupakan urat nadi perekonomian mereka.

Jika tidak segera ditangani, longsor yang terus berulang bukan hanya memperparah kerusakan infrastruktur, tetapi juga berpotensi memicu krisis air bersih bagi masyarakat luas di wilayah Kabaena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *