
Bombana – Pernyataan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana yang menyebut longsor di Pulau Kabaena tidak menimbulkan dampak menuai sorotan dari warga, terlebih setelah longsor kembali terjadi dan memperparah kondisi di lapangan.
Kepala Dusun Olondoro, Ayan, mengungkapkan bahwa pihak DLH memang telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Namun, hasil yang disampaikan dinilai tidak mencerminkan kondisi kekhawatiran masyarakat.
“Menurut mereka tidak ada dampak. Mereka sudah turun ke lapangan belum lama ini, tapi ada yang lucu menurut saya dengan keterangan DLH yang mengatakan tidak ada dampak,” ujar Ayan.
Ia menilai, sikap tersebut terkesan menunggu kondisi benar-benar rusak sebelum mengambil langkah serius. “Jadi mereka harus menunggu rusak dulu baru ada sikap,” tambahnya dengan nada kecewa.
Kekhawatiran warga kini terbukti. Longsor kembali terjadi dan menyebabkan jalan tani semakin tertimbun material. Kondisi ini tidak hanya menghambat akses masyarakat, tetapi juga berdampak serius pada infrastruktur vital.
Yang paling parah, pipa saluran air bersih yang melayani delapan desa dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga patah. Akibatnya, distribusi air bersih ke warga terancam lumpuh total.
Sementara itu, pihak Dinas Lingkungan Hidup Bombana melalui Kabid Penataan dan Penataan PPLH, Fatma, masih irit bicara saat dikonfirmasi. “Sebentar ya, saya masih rapat di DPR,” ujarnya singkat.
Masalah longsor ini sendiri telah dilaporkan secara resmi oleh Pemuda Pemerhati Lingkungan Bombana kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara, sebagai bentuk kekhawatiran atas potensi dampak yang kini mulai dirasakan masyarakat.
Peristiwa ini mempertegas perbedaan antara klaim tidak adanya dampak dengan realita di lapangan. Warga mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah cepat dan konkret, mengingat dampak longsor tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat berupa akses jalan dan air bersih.



