Ada hal yang menarik ketika kita melihat sebuah perjuangan akhirnya menemukan jawabannya. Bukan hanya tentang jalan yang kini mulai dikerjakan, tetapi tentang perjalanan panjang seorang anak muda yang pernah berdiri menyuarakan kegelisahan masyarakatnya, jauh sebelum ia menjadi seorang anggota DPRD.

Saya mencoba menarik ingatan itu kembali ke Juli 2018. Kala itu, Justang masih berusia 24 tahun. Ia belum duduk di kursi legislatif, belum memiliki jabatan politik seperti sekarang. Tetapi ada sesuatu yang sudah tumbuh dalam dirinya: keberanian untuk menyuarakan apa yang menurutnya tidak boleh terus dibiarkan.

Di tengah kondisi jalan Mataoleo yang memprihatinkan, Justang memilih datang ke Kantor DPRD Bombana. Ia membawa persoalan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa, tetapi bagi masyarakat yang setiap hari melintasinya, jalan rusak adalah persoalan kehidupan. Lumpur ketika hujan, debu ketika kemarau, dan kesulitan perjalanan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Baca Juga:

Yang membuat saya tertarik dari perjalanan ini bukan semata-mata aksi seorang pemuda pada 2018. Melainkan bagaimana sebuah kegelisahan terhadap kampung halaman dapat bertahan begitu lama, bahkan ketika waktu dan keadaan telah berubah.

Hari ini, Justang bukan lagi pemuda yang datang menyuarakan aspirasi dari luar gedung DPRD. Ia telah menjadi bagian dari lembaga yang dahulu menjadi tempatnya menyampaikan tuntutan. Sebuah perjalanan yang tentu tidak sederhana, dari seorang pemuda yang bersuara hingga menjadi wakil rakyat yang memiliki tanggung jawab politik.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Perjuangan jalan Mataoleo bukan baru dimulai ketika Justang menjadi anggota DPRD. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak jauh sebelumnya.

Sejumlah LSM, masyarakat, hingga pemerintah desa ikut serta dalam menyuarakan harapan yang sama: agar jalan yang selama bertahun-tahun menjadi penghambat mobilitas warga itu mendapat perhatian serius. Aspirasi disampaikan, keluhan diperjuangkan, dan kondisi jalan yang memprihatinkan terus menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar kebutuhan semata, melainkan hak masyarakat untuk memperoleh akses kehidupan yang lebih layak.

Masyarakat Mataoleo sendiri tidak pernah berhenti berharap. Mereka menginginkan jalan yang layak, jalan yang memudahkan anak-anak menuju sekolah, membantu petani membawa hasil kebun, dan memperlancar perjalanan warga menuju pelayanan kesehatan. Sebuah harapan sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi kehidupan mereka.

Momentum penting kemudian hadir ketika Andi Sumangerukka, dalam kampanye Pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara, menyampaikan komitmen peningkatan jalan Kasipute–Lora–Bambaea kepada masyarakat Mataoleo. Bagi warga yang telah lama menunggu, komitmen tersebut menjadi harapan baru bahwa persoalan jalan mereka tidak lagi sekadar menjadi cerita yang berulang dari tahun ke tahun.

Dan kini, pada 2026, pekerjaan peningkatan jalan itu mulai dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kunjungan Gubernur Andi Sumangerukka ke lokasi pekerjaan menjadi salah satu momen yang menandai perjalanan aspirasi tersebut menuju kenyataan.

Bagi Justang, tentu ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat sesuatu yang pernah diperjuangkannya sejak muda mulai dikerjakan. Sebuah perjalanan yang tidak berhenti pada keberanian menyampaikan aspirasi, tetapi juga menyaksikan bagaimana harapan masyarakat perlahan menemukan jalannya.

Saya membayangkan, bagi seorang pemuda yang dahulu datang membawa kegelisahan tentang kampung halamannya, melihat alat berat bekerja di ruas jalan yang selama ini diperjuangkan tentu memiliki makna tersendiri. Bukan tentang kebanggaan atas dirinya, melainkan tentang harapan bahwa masyarakat akhirnya mendapatkan apa yang sejak lama mereka butuhkan.

Justang juga menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, atas komitmen pembangunan tersebut. Apresiasi itu menjadi bagian dari penghargaan terhadap pemerintah yang telah mengambil langkah nyata menjawab kebutuhan masyarakat.

Dititik ini, saya melihat sesuatu yang patut dihargai dari perjalanan Justang. Ia tidak hanya hadir ketika pembangunan mulai berjalan. Rekam jejaknya memperlihatkan bahwa persoalan jalan Mataoleo telah menjadi perhatian dan perjuangannya sejak sebelum memperoleh kedudukan politik seperti sekarang.

Tentu, pembangunan jalan ini bukan hasil perjuangan satu orang semata. Ada masyarakat yang terus menyampaikan aspirasi, ada berbagai pihak yang ikut memperjuangkan, dan ada pemerintah yang memiliki kewenangan serta tanggung jawab merealisasikan pembangunan. Tetapi, perjalanan Justang memberikan wajah manusiawi pada sebuah aspirasi yang selama ini mungkin hanya kita kenal sebagai persoalan infrastruktur.

Dari seorang pemuda yang pernah berdiri menyuarakan jalan rusak, hingga menjadi anggota DPRD yang menyaksikan pembangunan mulai berlangsung, perjalanan itu menyimpan pesan yang sederhana: jabatan boleh berubah, waktu boleh berlalu, tetapi kepedulian terhadap kampung halaman seharusnya tidak ikut berubah.

Dan mungkin, di situlah letak kekaguman yang sesungguhnya terhadap Justang. Bukan karena ia kini menjadi anggota DPRD atau dipercaya memimpin partai politik, melainkan karena ada cerita perjuangan yang mendahului semua itu. Sebuah cerita tentang keberanian bersuara ketika belum memiliki kekuasaan, tentang kegelisahan yang tidak hilang bersama waktu, dan tentang harapan yang terus diperjuangkan.

Pada akhirnya, jalan Kasipute–Lora–Bambaea bukan sekadar proyek pembangunan bagi masyarakat Mataoleo. Ia adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dan bagi Justang, jalan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan yang pernah dimulai dari sebuah kegelisahan, suatu hari dapat menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan banyak orang.

Sebab, seorang pejuang kampung halaman tidak selalu dikenang karena seberapa tinggi jabatan yang pernah didudukinya. Ia akan dikenang ketika masyarakat merasakan bahwa apa yang pernah ia suarakan benar-benar memiliki arti bagi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *