
METROSULTRA.ID, BOMBANA – Ketegangan antar kelompok nelayan di perairan Lora, Kecamatan Mataoleo, Kabupaten Bombana, viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan sejumlah kapal nelayan saling berhadapan di tengah laut.
Video yang beredar di TikTok itu memicu perhatian publik karena diduga berkaitan dengan persoalan batas wilayah tangkap dan pelanggaran kesepakatan antar nelayan yang sebelumnya pernah dibahas bersama aparat dan masyarakat pesisir.
Dalam video tersebut tampak beberapa kapal nelayan berjaga di area penangkapan ikan. Narasi dalam unggahan itu juga menyinggung pentingnya saling menghargai karena disebut telah ada perjanjian bersama terkait wilayah tangkap.
Menanggapi situasi tersebut, anggota DPRD Bombana, Justang, meminta aparat penegak hukum khususnya Pol Airud dan Angkatan Laut segera turun melakukan penertiban sesuai aturan yang berlaku.
“Jangan biarkan masyarakat melakukan tindakan dengan cara mereka sendiri,” tegas Justang saat dimintai tanggapan, Jumat (13/6/2026).
Menurutnya, persoalan wilayah tangkap nelayan sebenarnya sudah beberapa kali dibahas melalui rapat bersama aparat penegak hukum dan masyarakat nelayan. Karena itu, ia menilai kesepakatan yang telah dibuat seharusnya dijalankan secara konsisten di lapangan.
“Aturan wilayah tangkap ini sudah sering dilakukan rapat bersama APH dan masyarakat. Tinggal dijalankan saja yang sudah disepakati sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Metrosultra, konflik diduga bermula saat sejumlah kapal nelayan memasuki area tangkap yang selama ini dianggap sebagai wilayah kelompok nelayan tertentu. Kondisi itu memicu ketegangan di tengah laut hingga kedua kelompok saling bertahan di lokasi penangkapan ikan.
Sejumlah warga pesisir menyebut persoalan wilayah tangkap bukan pertama kali terjadi di kawasan perairan Mataoleo. Lemahnya pengawasan diduga menjadi salah satu penyebab aturan di lapangan tidak berjalan maksimal.
Wilayah pesisir Lora sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan nelayan tradisional di Bombana yang selama ini bergantung pada hasil laut. Kelompok nelayan di wilayah tersebut juga pernah melakukan upaya pemulihan ekosistem laut dan pengawasan kawasan pesisir secara mandiri.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi terkait korban maupun proses hukum dalam ketegangan antar nelayan tersebut. Warga berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan segera melakukan mediasi agar konflik tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka di laut.



